Minggu, 18 Maret 2012


JAKARTA--MICOM: Rencana pemerintah untuk menyatukan tiga zona waktu Indonesia terlalu terburu-buru. Diperlukan pengkajian terlebih dahulu secara seksama. 

Demikian dikatakan Ketua Kadin Suryo B Sulisto, saat dihubungi Media Indonesia, akhir pekan lalu. "Saya kira sebaiknya dikaji terlebih dahulu secara seksama. Terutama mengenai cost dan benefitnya soal penggabungan waktu itu," kata Suryo. 

Ia mengatakan jika rencana penyatuan tiga zona waktu akan membawa manfaat besar. Harus dihitung juga seberapa besar manfaatnya tersebut. "Kalau dikatakan membawa manfaat yang besar, apa benar? Seberapa besarnya sih? Dihitung bisa tidak? Seberapa besar manfaat itu ketimbang mudaratnya," ujar Suryo. 

Suryo mencontohkan kalau di Amerika Serikat, mereka mempunyai sistem yang dinamakan penyesuaian daylight saving. Sistem inilah yang menjadi standar menentukan hitungan waktu dalam setiap musim yang terjadi di Amerika Serikat. 

"Setiap musim panas atau dingin ada yang namanya penyuasaian daylight saving. Jamnya dimajuin atau dimundurin. Dengan pertimbangan karena mataharinya lebih lama atau lebih sedikit. Maka untuk menghemat energi itu dilakukan," ungkap Suryo. 

Sementara di Indonesia, Suryo mempertanyakan perhitungan waktunya nanti akan seperti apa. Karena perhitungan waktu berdasarkan lama keluarnya matahari seperti yang dilakukan Amerika Serikat tidak diterapkan di Indonesia. "Kalau di Indonesia perhitungan waktu berdasarkan perbedaan atas dasar lamanya matahari keluar kan tidak ada. Jadi apa pertimbangannya?," tandasnya. (*/OL-04) 

http://www.mediaindonesia.com

KAPOLRESTA SOLO Ajak Masyarakat Wujudkan Damai


JIBI/SOLOPOS/Nadhiroh LANTUNKAN SALAWAT— Kapolresta Solo, Kombes Pol Asdjima’in (ketiga kiri) ikut melantunkan salawat pada acara Konser Sholawat dan Bedah Buku Ahlul Bid’ah Hasanah 2 bersama Ustad Noval Alaydrus (kiri) di Sritex Arena, Minggu (18/3/2012).
















SOLO—Kapolresta Solo, Kombes Pol Asdjima’in mengajak masyarakat untuk menjaga dan mewujudkan kedamaian di Kota Solo dan sekitarnya. Kapolresta juga meminta warga menjaga sopan santun.
“Sampaikan segala kritik dengan sopan dan santun. Polisi siap menerima kritikan. Tiap kritikan diterima dengan baik,” ujar Kapolresta pada acara Konser Sholawat dan Bedah Buku Ahlul Bid’ah Hasanah 2 bersama Ustad Noval Alaydrus (kiri) di Sritex Arena, Minggu (18/3/2012).
Kapolresta berharap masyarakat tidak takut kepada polisi. Warga bisa melapor kepada polisi jika ada masalah-masalah sosial. Di dalam menghadapi perbedaan di masyarakat supaya bersikap bijak. Untuk mengatasi permasalahan sosial, polisi bersama tokoh agama dan masyarakat berusaha menyelesaikannnya.
Ustad Noval mengemukakan masyarakat supaya saling menghargai dan tidak berbuat anarkis apabila tidak sepakat dengan sebuah perbedaan. Dia menginginkan antara satu dan lainnya supaya tidak saling menyinggung dan bersikap santun.
“Melalui kegiatan salawat ini, semoga ukhuwah makin kuat dan untuk syiar Islam,” ucap Ustad Noval.
Konser salawat yang digagas Majelis Ilmu dan Dzikir Ar Raudhah itu dihadiri sekitar 10.000 jemaah di antaranya dari berbagai wilayah di Soloraya dan DIY.
Nadhiroh/JIBI/SOLOPOS

Sabtu, 10 Maret 2012

PERSPEKTIF PROF.DR. BUYA HAMKA TENTANG EKSISTENSI KETURUNAN SAYYIDINA MUHAMMAD SAW


  Panggilan Habib atau Sayyid, Syarif dan lain-lain merupakan panggilan yang sering kita dengar untuk sebutan keturunan Rasululalh saw. Sebagian masyarakat menggunakan panggilan ini dan sebagian lain tidak. Ada juga yang tidak mengakui keturunan Rasulullah saw namun ada yang tidak. Berikut adalah pendapat Prof. Dr. Hamka dalam menerangkan masalah Gelar Sayid atau Habib yang cukup bijaksana. 

H. Rifai, seorang Indonesia beragama Islam yang tinggal di Florijin 211 Amsterdam, Nederland, pada tanggal 30 Desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H.A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.
Oleh Menteri Agama diserahkan kepada Prof. Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAKMA) untuk menjawabnya melalui PANJI MASYARAKAT, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya telah merata.
Penulis

Yang pertama sekali hendaklah kita ketahui bahwa Nabi s.a.w tidaklah meninggalkan anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki yaitu Qasim, Thaher, Thaib, dan Ibrahim meninggal di waktu kecil belaka. Sebagai seorang manusia yang berperasaan halus, beliau ingin mendapat anak laki-laki yang akan menyambung keturunan (Nasab) beliau hanya mempunyai anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum dan Fathimah. Zainah memberinya seorang cucu perempuan. Itupun meninggal dalam sarat menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kaitsurr mati muda. Keduanya isteri Usman bin Affan, meninggal Ruqayyah berganti Ummu Kaltsum (ganti tikar), ketiga anak perempuan inipun meninggal dahulu dari beliau.

Hanya Fathimah yang meninggal kemudian dari beliau dan hanya dia pula yang memberi beliau cucu laki-laki. Suami Fahimah adalah Ali Bin Abi Thalib. Abu Thalib adalah abang dari ayah Nabi dan yang mengasuh Nabi sejak usia 8 tahun. Cucu laki-laki itu ialah Hasan dan Husain. Maka dapatlah kita merasakan, Nabi seorang manusia mengharap anak-anak Fathimah inilah yang akan menyambung turunannya. Sebab itu sangatlah kasih sayang dan cinta beliau kepada cucu-cucunya ini. Pernah beliau sedang ruku si cucu masuk ke dalam kedua celah kakinya. Pernah sedang beliau Sujud si cucu berkuda ke atas punggungnya. Pernah sedang beliau khutbah, si cucu sedang ke tingkat pertama tangga mimbar.

Al-Tarmidzi merawjkan dari Usamah Bin Zaid bahwa dia (Usamah) pernah melihat Hasan dan Husain berpeluk di atas kedua belah paha beliau. Lalu beliau s.a.w. berkata: Kedua anak ini adalah anakku, anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan Aku sayang kepada keduanya”.
Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Abi Bakrah bahwa Nabi pernah pula berkata tentang Hasan; ‘Anakku ini adalah SAYYID (Tuan), moga-moga Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum Muslimin yang berselisih.
Nubuwat beliau itu tepat. Karena pada tahun 60 hijriah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah, karena tidak suka melihat darah kaum Muslimin tertumpah. Sehingga tahun 60 itu dinamai “Tahun Persatuan”. Pernah pula beliau berkata: “kedua anakku ini adalah SAYYID (Tuan) dan pemuda-pemuda di surga kelak”.
Barangkali ada yang bertanya: “Kalau begitu jelas bahwa Hasan dan Husain itu cucunya, mengapa dikatakannya anaknya”.

Ini adalah pemakaian bahwa pada orang Arab, atau bangsa-bangsa Semit. Di dalam Al-Qur’an surat ke-12 (Yusuf) ayat 6 disebutkan bahwa Nabi Yakub mengharap moga-moga Allah menyempurnakan ru’matnya kepada puteranya Yusuf” sebagai mana telah disempurnakanNya ni’mat itu kepada kedua bapamu sebelumnya, yaitu Ibrahim dan Ishak. Pada hal yang bapa, atau ayah dari Yusuf adalah Ya’kub. Ishak adalah neneknya dan ibrahim adalah nenek ayahnya. Di ayat 28 Yusuf berkata:

Bapa-Bapaku Ibrahim dan Ishak dan Ya’kub. Artinya nenek-nenek moyang disebut bapa, dan cucu cicit disebut anak-anak. Menghormati keinginan Nabi yang demikian, maka seluruh umat Muhammad menghormati mereka. Tidakpun beliau anjurkan, namun kaum Quraisy umumnya dan Bani Hasyim dan keturunan hasan dan Husain mendapat kehormatan istimewanya di hati kaum Muslimin.

Bagi ahlis-sunnah hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan Hasan dan Husain di panggilkan orang SAYYID; kalau untuk banyak SADAT. Sebab Nabi mengatakan “Kedua anakku ini menjadi SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga; Disetengah negeri di sebut SYARIF, yang berarti orang mulia atau orang berbangsa; kalau banyak ASYRAF. Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuini. Allah adalah ajaran (dari suatu aliran – penulis) kaum Syi’ah yang berlebih-lebihan.

Apatah lagi di dalam Al-Qur’an, surat ke-33 “Al-Ahzab”, ayat 30, Tuhan memperingatkan kepada isteri-isteri Nabi bahwa kalau mereka berbuat jahat, dosanya lipat ganda dari dosa orang kebanyakan. Kalau begitu peringatan Tuhan kepada isteri-isteri Nabi, niscaya demikian pula kepada mereka yang dianggap keturunannya.
MENJAWAB pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul keturunan Rasulullah s.a.w ? Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Philipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan Pembangunan Kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang dipernankan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah Bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi Raja di Aceh. Negeri Pontianak pernah diperintah bangsa Sayid Al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa Sayid bin Syahab.

Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayid Jamalullail. Yang dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun-temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari Hadramautdari keturunan Isa Al-Muhajir dan Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal ialah keluarga Alatasa. Assagaf,Alkaf, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Assiry, Al-Aidid, Al Jufri, Albar, Almussawa, Ghatmir, bin Agil, Alhadi, Basyarban, Bazzar;ah. Bamakhramah. Ba;abud. Syaikhan, Azh-Zhahir, bin Yahya dan lain-lain. Yang menurut keterangan Almarhum Sayid Muhammad Bin Abdurrahman bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari “Ubaidillah Bin Ahmad Bin Isa Al-Muhajir. Ahmad Bin isa Al-Muhajir Ilallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadhramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad Bin Isa Al Muhajir Bin Muhammad Al-Naqib bin Ali Al-Aridh Bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain As-Sibthi Bin Al Bin Abi Thalib. As-Sabthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari Fathurmah binti Rasulullah s.a.w

Sungguhpun yang terbanyak adalah keturunan Husain dari hadhramaut itu, ada juga yang keturunan Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan Syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggilkan Tuan Sayid, mereka dipanggil juga HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Sarawak dan Sabbah disebut Tuanku. Di Pariaman (Sumatera Barat) disebut SIDI. Mereka telah tersebar di seluruh dunia. Di negeri-negeri besar sebagai Mesir, Baghdad, Syam dan lain-lain mereka adalah NAQIB yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai 36.37.38 silsilah sampai kepada Sayidina Ali dan Fathimah.

Dalam pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia, pihak al-Irsyad yang menandatang dominasi kaum Baalwi menganjurkan agar yang menganjurkan agar yang bukan keturunan Hasan dan Husain memakai juga titel Sayid dimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, tidak pilih keturunan Alawy atau bukan, dengan pimpinan A.R Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan “Al-Akh”, artinya Saudara.

Maka baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali di Kwitang Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad Bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah ko Hadramaut itu, dan Ahmad Bin Isa tersebut adalah cucu tingkat ke-6 dari cucu Rasulullah Husain Bin Ali Bin Abi Thalib itu. Kepada keturunan-keturunan itu semuanya kita berlaku hormat, dan cinta, yaitu hormat dan cinta orang Islam yang cerdas, yang tahu harga diri. Sehingga tidak diperbodoh oleh orang-orang yang menyalahgunakan keturunannya itu. Dan mengingat juga akan sabda Rasulullah s.a.w.: janganlah sampai orang lain datang kepadakua dengan amalnya, sedang kamu datang kepadaku dengan membawa nasab dan keturunan kamu, dan pesan beliau pula kepada puteri kesayangannya, Fathimah Al-Batul, ibu dari cucu-cucu itu: “Hai Fathimah binti Muhammad. Beramallah kesayanganku. Tidaklah dapat aku, ayahmu menolongmu dihadapan Allah sedikitpun”. Dan pernah beliau bersabda: “Walaupun anak kandungku sendiri, Fathimah, jika dia mencuri aku potong juga tangannya”.

Sebab itu kita ulangilah seruan dari seorang anak ulama besar Alawy yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu Sayid Muhammad Bin Abdurrahman Bin Syahab, agar generai-generasi yang datang kemudian dari turunan “Alawy memegang teguh Agama Islam, menjaga pusaka nenek-moyang, jangan sampai tenggelam kedalam peradaban Barat. Seruan beliau itupun akan telah memelihara kecintaan dan hormat Ummat Muhammad kepada mereka.

Jumat, 02 Maret 2012

Hukum Merokok Menurut Syech Hisam Al Kabani

Siapapun Merokok, maka Solatnya Tidak Diterima
( Smoking in Islam )
Mawlana Syaikh Hisham Kabbani qs
From sufilive.com


A`udzu billahi min asy-syaitaan ir-rajiim. Bismillahir
- Rahmanir- Rahiim. Nawaytu'l-arba' iin,
nawaytu'l-`itikaaf, nawaytu'l-khalwah,
nawaytu'l-riyaada, nawaytu's-suluuk, nawaytu'l -`uzlah
lillahi ta`ala fii hadza'l - masjid. Ati` Allah wa
ati` ar-Rasula wa uli 'l-amri minkum

Pada sesi sebelumnya tentang merokok, Grand Sheik
Abdullah Faiz ad-Daghestani qs berkata bahwa Sayidina
Abu Ahmad as-Suguhri qs diberi Allah swt kekuatan
Qutbaniyah untuk menjadi Qutb.

Ada 5 Wali Qutb yaitu  Qutb Irsyad, Qutb Bilad, Qutb
Aqtab, Qutb Mutasayrif dan Qutb Ghawts. Lima Qutb,
Lima Pilar Tonggak yang Allah berikan, merupakan
kekuatan untuk semua hal, yang diwariskan kepada Nabi
Muhammad Sallallahu Alayhi wasallam.

Syaikh Abu Ahmad Suguhri qs, adalah merupakan salah
seorang sheik terbesar dari Naqsbandi, dan beliau
menjadi Qutb selama 40 tahun beserta tanggung
jawabnya. Disini kita tidak menjelaskan panjang lebar
tingkatan Qutb atau artinya, tetapi singkatnya
tergantung pada jenis Qutbul apakah dirinya.  Disana
ada lima Qutb. Jadi semua  yang dibawahnya menjadi
tanggungjawabnya.

Qutbul Irsyad, sebagai contoh, dimana tugasnya adalah
memberikan bimbingan kepada para Awlya Allah dan
melaluinya Awliya Allah menerima bimbingan, dan dari
mereka diturunkan kepada para muridnya. Itu adalah
tugas Qutb Irsyad.

Qutbul Mutasyarif, yang menjadi tanggung jawabnya
adalah memonitor semua kejadian didunia, semua
kejadian diterangkan kepada Awliya Allah dan darinya
diteruskan kepada murid-muridnya. Ini adalah
penjelasan singkat tentang kemampuan para Qutb.
Syaikh Abu Ahmad Suguhri qs selama 40 tahun menjadi
Qutb.

Beliau mengatakan bahwa hal terburuk  yang dapat
dibayangkan didunia ini, adalah banyaknya manusia yang
tidak mengetahui bahwa yang terburuk adalah tanaman
tembakau, atau tanaman asal muasalnya rokok. Tanaman
itu membawa kotoran iblis dan para setannya, yang
kemudian dicampur agar yang menghisap rokok ini, akan
menghisap kekotoran dan perilaku buruk para iblis dan
setan.

Syaikh Abu Ahmad Sughuri qs berkata,” Oh, anakku,
kalian harus berterima kasih pada Allah swt, karena
telah memberikan kita nikmat dan pertolongan azaniyah,
sebelum dan sesudah keabadian, azaniyah wa abadiyah.
Pertolongan azaniyah wa abadiyah ini dinikmati oleh
murid Naqsbandi, agar mereka tidak kecanduan merokok.

Mungkin beberapa orang muird merokok dan kemudian
mereka berhenti karena mereka tahu bahayanya. Maka
beliau berkata jangan sampai kalian kecanduan merokok,
dan siapapun yang kecanduan merokok, mereka harus
berhenti , kalau tidak mereka akan berada dibawah
kutukanNya. Allah mengutuk iblis sehingga kutukan itu
juga mengalir lewat tanaman tembakau dan menanamkan
juga perilaku buruk, seperti perilaku buruk orang yang
berbohong atau menggosipkan atau menggibah orang lain.
Karena iblis juga menggosip  dari belakang dan
memberikan inspirasi buruk kepada Sayidina Adam as.

Pernyataan tentang merokok ini sangat keras, tetapi
saya harus menyampaikan perkataan Mawlana Syaikh Nazim
qs. Beliau berkata siapapun yang merokok dan tidak
berhenti atau berniat untuk berhenti, wa salatuhu
batila, sholatnya batil, solatnya tidak diterima
karena ia menghisap bau iblis, maka Malaikat yang
datang tidak dapat mendekat untuk menghitung amal baik
sholatnya agar dikirim ke surga ke pada Allah swt.
Mereka tidak bisa mendekat karena bau busuk rokok yang
menyengat. Oleh karena bau orang yang merokok
tersebut, maka  sholatnya tidak diterima Allah swt.

Bukan saja sholatnya tidak diterima, tetapi seluruh
amalnya di dunia ini tidak diterima dan ia harus
mengulang sholatnya diatas api neraka. Ketahui bahwa
api neraka Allah, adalah seperti lantai besi yang
dibawahnya berkobar api neraka yang sangat panas
membakar dan  kau harus sholat berulang-ulang sampai
selesai diatas lantai panas itu.

Begitulah hukuman bagi anda yang merokok dan bagi yang
sering terlewatkan sholat dan belum membayarnya.
Kalian akan melakukan semua sholat sampai selesai
diatas lantai besi panas yang akan membakar semua
bagian badan anda, mulai dari kepala, tangan, kaki
kalian, dan apapun yang disentuh akan terbakar.

Jadi, lebih baik niatkan untuk membayar sholat yang
terlewatkan diwaktu muda, dengan menambah satu waktu
sholat pada setiap sholat yang dilakukan saat ini.
Niatkan dengan niat,”Yaa Roobi, saya terlewatkan
sholat ini sewaktu saya masih muda, dan tidak tahu apa
yang saya lakukan, sekarang saya akan membayarnya.
Insya Allah dengan niat ini, maka bisa menyelamatkan
diri anda dari sholat diatas lantai besi panas, meski
belum terbayarkan semua saat ajal tiba, Allah akan
mengampuni, karena semua tergantung dari niat kita.

Bagi perokok, hal ini akan sangat berbeda, mereka
harus menyelesaikan sholat dilantai besi panas dan
Allah harus mengirim mereka ke api neraka dan membakar
mereka seluruh tubuhnya sampai jadi abu, seperti rokok
yang terbakar sewaktu anda merokok, dan menciptakan
mereka kembali dilain waktu dan barulah mengirimnya ke
surga.

Jadi orang yang merokok akan merasakan api yang
membakar karena ia tidak mau menghentikan kebiasaanya
sendiri untuk merokok. Hukuman  ini adalah akibat
tidak adanya niat, dan tidak mau berhenti merokok.

Oh, anak-anakku jangan biasakan anakmu merokok. Kalau
anda punya anak lelaki atau perempuan, pastikan mereka
tidak merokok karena anda harus bertanggung jawab.
Saat anak berumur 15 tahun, darah mereka bergolak
didalam untuk melakukan hal yang tidak baik, jadi
jangan biarkan mereka berkuasa atau mengontrol
bapaknya atau ibunya.

Ajari mereka untuk menghormati, ajari mereka untuk
bersikap sopan, kalau tidak!! Anda tidak akan bisa
menguasai anak anda dan mereka akan lari. Kita telah
lelah berlari-lari mengejar pekerjaan kita, sepanjang
hidup kita, supaya anak kita bisa hidup baik. Hal ini
tidak akan setimpal, jangan lakukan itu. Saat anak
anda besar, yang mereka pikirkan hanyalah semua harta
warisan anda.

Hal ini ada di pikiran beberapa anak ketika orang
tuanya meninggal. Pikiran mereka hanya mewarisi mobil,
rumah, rekening bank anda. Mereka berpikir orang tuaku
tidak tahu apa-apa, mereka aneh, mereka terbelakang,
orang tua yang kuno. Saya modern, saya tahu semua,
ibuku tak tahu apa-apa, begitu juga bapakku. Saya
punya opini sendiri, saya ingin mendiri.

Khususnya bagi anak-anak setelah mereka berusia 16
tahun, yang mereka pikirkan adalah berpisah dari orang
tua dengan tinggal di apartemen.  Saya ingin mandiri
pergi kuliah di  universitas. Mereka tidak mau tinggal
dengan orangtua mereka. Mereka ingin lari dari
keluarga, mereka tidak tahu keluarga adalah barakah.
Paling tidak mereka aman dari setan karena keluarga
mereka dapat melindungi mereka.

Tetapi bukannya mereka mengikuti ayah ibunya, malah
mereka memilih tinggal di apartemen dengan teman
wanitanya atau pacarnya. Mereka tidak tahu apa saja
yang mereka kerjakan, merokok, menghisap ganja dan
mabuk-mabukan. Mereka menginginkan hidup yang bebas
dan liar, tanpa kewajiban apapun.

Bila kalian melihat negara-negara didunia ketiga,
mereka lebih berhasil dalam kehidupan berkeluarga dan
bersosial.  Karena para orangtua tidak memberikan
kebebasan yang terlalu besar kepada anak-anak mereka.
Jika kalian memperhatikan statistic, tingkah laku
remaja pada Negara maju yang memberikan kebebasan yang
terlalu banyak,  maka banyak dari mereka sekolahnya
tidak berhasil. Kalian akan melihat persentase yang
sangat rendah dalam pendidikan remaja yang terlalu
bebas dinegara maju. Tetapi di Negara berkembang, maka
kalian akan melihat hasil yang berbeda

Dinegara dunia ketiga, orangtua sangat focus kepada
pendidikan anak-anaknya, mereka pergi ke sekolah
menengah atas, universitas, menikah dan hidup mapan
berkeluarga. Berbeda sekali dengan dinegara maju yang
memberikan kebebasan begitu banyak kepada remaja,
kalian masih bisa melihat orang yang belajar pada usia
enampuluh tahun untuk memperoleh Phd. Saya juga suka
pergi sekolah

Maka Syaikh Abu Ahmad Sughuri qs berkata, untuk
keridhoan Allah swt, jangan terlalu lunak kepada anak
kalian, dan menyebabkan mereka berada dibawah control
setan, kalian harus kuat dalam menghadapi pengaruh
setan. Buatlah disiplin pada anak kalian, maka kalian
akan menyelamatkan anak kalian dari bahaya merokok,
dan problem yang ditimbulkannya pada perilaku dan
kepribadiannya.

Seperti saat ini, kebanyakan orang tua, salah dalam
berperilaku. Jika kalian memiliki rahasia, jangan
ceritakan kepada siapapun, karena kalian tidak akan
yakin, bahwa suatu ketika, mereka akan mengekspos
kesalahan anda.

Allah..Allah, kemudian beliau berbicara tentang asal
tanaman tembakau.  Tanaman ini  berasal dari kotoran
setan, berasal dari ananiyah, ego dan mementingkan
diri sendiri serta iri hati. Dalam tariqah tidak
diterima bagi murid yang mengatakan tidak kepada
mursyidnya, atau terhadap larangannya. Tidak pernah
diterima dan diijinkan untuk mengatakan tidak kepada
Mursyid, karena ketika kalian berkata tidak kepada
Mursyid kalian, maka kalian telah melanggar untuk
tidak mematuhi Allah swt. Ati Allah, ati ur Rasul ati
ulil amri minkum.

Jika kalian tidak mematuhi Mursyid kalian, maka guru
kalian akan malu dihadapan Nabi Muhammad saw, lihatlah
muridmu, mereka melanggar perintahmu dan laranganmu.
Demikian juga dengan anak-anak kalian, jangan didik
mereka untuk berkata tidak terhadap perintahmu atau
kata-katamu. Anak-anak kalian harus menerima apa yang
orang tua kalian katakan.

Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri qs berkata, Tuan kalian
atau Pemimpin masyarakat, adalah hamba-hamba yang
melayani masyarakat.  Hamba Allah swt adalah merupakan
level tertinggi, karena mereka memberikan cintanya
untuk melayani masyarakat, memperlihatkan muka yang
senantiasa tersenyum kepada siapapun, bergurau,
memberi makan dan tidak pernah merasa kecewa terhadap
siapapun.

Sayidul kaum, Mursid adalah mereka yang menjaga
murid-muridnya, mereka memperlakukan dengan sangat
baik, melayani mereka dan muridpun bahagia bersamanya,
maka dialah pemimpin kalian yang sebenarnya.

Awliya Allah mengikuti langkah para Sahabat dan Nabi
saw. Seperti dikatakan Nabi Muhammad saw, ”Jika kalian
mengikuti salah satu dari sahabatku, maka dia seperti
bintang dilangit yang dapat membimbing kalian. Ini
adalah hadist sahih, hadist yang otentik.

Para Awliya Allah mewarisi rahasia bimbingan sejati
ini berasal dari Nabi saw. Maka mereka akan membimbing
para murid, apapun bimbingan yang diinginkan mereka.
Ikuti Awliya, maka mereka akan menunjukkan jalan bagi
kalian, karena mereka adalah Sayidul Kaum, Leader dan
Master kalian. Mereka akan membimbing kalian dalam
kehidupan abadi, dan menunjukkan kepada kalian
jalannya Nabi Muhammad sallallahu alayhi wasalam.

Sayidina Musa as adalah seorang nabi. Dan beliau
bertanya kepada Sayidina Khidir as.  Mawlana berkata,
Sayidina Khidir as adalah Waliyullah, bukan seperti
Nabi Musa as. Kalian tidak dapat mengikuti cara
Sayidina Khidir as, sungguh sangatlah sulit. Nabi Musa
as dengan ijin Allah swt, meminta untuk menemani
Sayidina Khidir as.

Kalian mengetahui cerita ini, bagaimana Sayidina
Khidir as menenggelamkan kapal, membuat lubang  dan
membunuh seorang anak kecil, dan membangun dinding.
Dan Nabi Musa as tidak sanggup untuk mengikuti beliau,
karena Musa as tidak tahu hikmah dibalik setiap
perbuatan Sayidina Khidir as.  Apa yang Allah swt
berikan kepada Khidir as, tidak diberikan kepada Musa
as. Sebaliknya apa yang Allah swt berikan kepada Musa
as tidak diberikan kepada Khidir as.

Itulah sebabnya kita harus sangat berhati-hati untuk
melihat perbedaan dari setiap Awliya. Jangan
bandingkan, jangan evaluasi mereka, jangan berkata
yang ini lebih baik dari yang itu. Bukanlah urusan
kalian. Urusan kalian hanya pilihlah salah satu dari
mereka, ikuti mereka dan jangan bandingkan bahwa yang
ini lebih tinggi dan lebih baik, maka kalian akan
merusak keseimbangan. Tugas kita hanyalah menerima dan
mengikuti, karena Allah swt Maha Mengetahui yang
terbaik.

Dahulu ada seorang Ulama Besar di Madinah Munawaroh,
namanya Buya Effendi. Setiap orang yang pergi ketempat
tersebut ke Madinah dan Makkah, pasti akan mengunjungi
dia dan menghormatinya. Ketika Mawlana Syaikh Nazim qs
melakukan suluk di Madinah, ditemani Sulthanul Awliya
GrandSheikh Andullah Faiz Daghestani qs (alm), mereka
berada di Madinah selama sembilan bulan.

Dan Ulama ini mengunjungi GrandShaikh Abdullah qs.
GrandSyaikh bertanya kepada Ulama Besar itu,”Ya Buya
Effendi,  Mengapa Allah swt  tidak memberikan
pengetahuan yang diberikan kepada Sayidina Khidir as
kepada Nabi Musa as?” Dan ulama itu menjawab,” Saya
tidak tahu”. GrandShaik Abdullah Faiz qs berkata,
“Ketika orang berbicara,  dengarkan, ketika orang
membuka mulutnya, dengarkan, maka kalian akan
memperoleh hikmah dibaliknya”.  Maka sayapun
mendengarkan jawaban Ulama Buya Effendi. Tidak masuk
akal untuk saya dan saya tidak mengerti mengapa Ulama
ini menjawab, “Saya tidak tahu?”. 

“ Ya Buya Effendi, engkau membaca hadist dan memberi
nasehat kepada  banyak orang, dan masyarakat
menghormatimu, karena pengetahuanmu, tetapi bagaimna
engkau tidak mengerti mengapa Nabi Musa as tidak
memiliki pengetahuan yang dimiliki Sayidina  Khidir
as?”.

“Ya Buya Effendi, berapa banyak hadist Nabi saw,
ratusan, ribuan, dan kesemuanya akan berada dibawah
sebuah hadist.  Yaitu siapapun yang Allah berikan
hikmah, maka mereka akan mengerti, tetapi siapapun
yang tidak diberikan hikmah, maka mereka tidak akan
mengerti. Jika engkau tidak memiliki hikmah, tentu
saja engkau tidak akan dapat melihat perbedaannya”.

“ Ya Buya Effendi, jika Allah swt memberi Sayidina
Musa as  pengetahuan yang Allah berikan kepada
Sayidina Khidir as, maka Musa as tidak akan pernah
keberatan terhadap apapun yang Sayidina Khidir as
lakukan, artinya Khidir as tidak akan membuka
pengetahuan-pengetahuan baru yang kalian tidak
ketahui. Musa as dalam kitab suci Al-Qur’an  dari awal
hingga akhir, beliau satu-satunya Nabi yang selalu
bertanya kepada Allah, Ya Allah apakah ini, Ya Robbi,
apakah ini, Musa as tidak mengerti rencana Allah,
Keinginan Allah di Dunia, maka Musa as selalu bertanya
kepada Allah swt.

 
Hal ini dilakukan Musa as dalam rangka mengajarkan
kita hikmah  kitab suci al-Qur’an.  Jika Sayidina Musa
as tidak bertanya, maka tak seorangpun memahami dan
mereka tak akan mengerti jawabannya.  Itulah sebabnya
Allah swt  tidak memberikan Nabi Musa as Rahasia
dibalik Samudera pengetahuanNYA. Seluruh pengetahuan
yang diberikan berasal dari pertanyaan Nabi Musa as.
Karena pertanyaan itu, Allah membuka  begitu banyak
rahasia dari Quran.

Nabi Muhammad Sallallahu alayhi wasalam tidak pernah
membuka mulutnya untuk bertanya karena beliau malu
dihadapan Tuhannya. Allah swt memberikan beliau saw
kesempurnaan yang tidak diberikan kepada Nabi Musa as.
 Allah swt memberikan Nabi Muhammad saw Adab yang
Sempurna, ketinggian karakter yang sempurna. Jika
Allah memberikan hal ini kepada Nabi Musa as, maka dia
tidak akan pernah melontarkan pertanyaan.
Itulah sebabnya banyak orang saat ini selalu bertanya,
dan mereka tidak mengetahui jawabannya. Jika kalian
mengikuti langkah Nabi saw, maka kalian akan
menyerahkan diri  kalian, tetap diam, apa yang akan
terjadi pasti terjadi. Allah swt memberikan umat Nabi
saw, hati yang terhubung dengan Nabi saw, memenuhinya
dengan pengetahuan  Allah, seperti air terjun. Hanya
dengan kepatuhan , maka pengetahuan itu akan terbuka.
Dan kalian akan mendapat pengetahuan melalui hati
kalian tanpa perlu bertanya.

Itulah sebabnya mengapa saat ini kita selalu bertanya,
karena kita berada dalam kegelapan. Melalui hikmah dan
Hadist, Nabi saw menjelaskan tentang Al-Quran. Tak
seorangpun mampu menjelaskan Samudera Ilmu Pengetahuan
Al-Quran, dan mengeluarkan seluruh hikmahnya kecuali
Nabi Muhammad saw.

Lihatlah betapa rendah hatinya Nabi Muhammad
sallallahu alayhi wasalam, beliau saw berkata,”Ya
Allah, jangan tinggalkan hamba dalam ego hamba walau
hanya sekejap”. Tetapi lihatlah saat ini, kita selalu
bersama ego kita, itulah sebabnya kita berkelahi,
masalah berdatangan dan kesulitanpun datang kepada
kita. Mudah-mudahan Allah melindungi kita dari
kesalahan ini.
Untuk siapapun yang masih merokok, berdoalah dan
berjuang untuk menghentikan kebiasaan merokok.
Siapapun yang pernah melalaikan solat, maka mereka
harus membayar solat yang lalai dikerjakan, siapapun
yang tidak berpuasa dibulan ramadhan, maka merekapun
harus membayar puasanya.
Jika mereka tidak puasa satu hari dibulan Ramadhan,
maka mereka harus menggantinya dengan puasa selama
enampuluh hari berturutan dibulan biasa, bila mereka
tidak mampu, maka mereka dapat memberi makan kepada 60
orang miskin. Tetapi jika inipun mereka tidak mampu
karena mereka miskin, maka Allah pun Maha Pemaaf.
Jika dahulu kalian tidak puasa selama 30 hari
Ramadhan, maka kalian harus memberi makan orang miskin
sebanyak 60 orang x 30 hari = 1.800 makanan dengan
menu seperti yang kalian makan. Buatlah kalkulasi,
beberapa Ulama mengatakan memberikan dua kali makanan
sehari.
Kalian dapat memberi makanan atau uang, misal satu
kali makan kalian menghabiskan US$ 5, maka untuk 60
orang berarti US$ 300. Kita tentu saja tidak ingin
membayar puasa kita di neraka, maka kita menghisabnya
didunia . Bihurmati Habib, Bihurmati Fatihah.
Wa min Allah at Tawfiq
wasalam

Maulidul Rasul


Maulidurrosul Nabi Muhammad

Muhammad (bahasa Arabمحمد, juga dikenal sebagai Mohammad,Mohammed, dan kadang-kadang olehorientalisMahomet,Mahomed) adalah pembawa ajaran Islam, dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi Allah(Rasul) yang terakhir. Menurut biografi tradisional Muslimnya (dalam bahasa Arab disebut sirah), ia lahir sekitar tahun 570, diperkirakan 20 April570 diMekkah (atau "Makkah") dan wafat pada 8 Juni632 di Madinah. Kedua kota tersebut terletak di daerah Hejaz (Arab Saudi saat ini).
"Muhammad" dalam bahasa Arab berarti "dia yang terpuji". Muslim mempercayai bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad adalah penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Mereka memanggilnya dengan gelar Rasulullah (رسول الله), dan menambahkan kalimat sallallaahu alayhi wasallam (صلى الله عليه و سلم, yang berarti "semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya"; sering disingkat "s.a.w" atau "S.A.W") setelah namanya. Selain itu Al-Qur'andalam Surah As-Saff (QS 61:6) menyebut Muhammad dengan nama "Ahmad" (أحمد), yang dalam bahasa Arab juga berarti "terpuji".
Michael H. Hart, dalam bukunya The 100, menetapkan Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal agama maupun hal duniawi. Dia memimpin bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah, menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi di medan pertempuran

Hukum Mankiban


MANAQIB part 2



Bagaimana hukumnya baca manaqib?


Mengertikah saudara arti kata-kata manaqib? Kata-kata manaqib itu adalah bentuk jamak dari mufrod manqobah, yang di antara artinya adalah cerita kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang.


Jadi membaca manaqib, artinya membaca cerita kebaikan amal dan akhlak terpujinya seseorang. Oleh sebab itu kata-kata manaqib hanya khusus bagi orang-orang baik mulia: manaqib Umar bin Khottob, manaqib Ali bin Abi Tholib, manaqib Syeikh Abdul Qodir al-Jilani, manaqib Sunan Bonang dan lain sebagainya. Tidak boleh dan tidak benar kalau ada orang berkata manaqib Abu Jahal,manaqib DN. Aidit dan lain sebagainya. Kalau demikian artinya pada manaqib, apakah saudara masih tetap menanyakan hukumnyamanaqib?


Betul tetapi cerita di dalam manaqib Syeikh Abdul Qodir al-Jilani itu terlalu berlebih-lebihan, sehingga tidak masuk akal. Misalkan umpamanya kantong berisi dinar diperas lalu keluar menjadi darah, tulang-tulang ayam yang berserakan, diperintah berdiri lalu bisa berdiri menjadi ayam jantan.


Kalau saudara melanjutkan cerita-cerita yang tidak masuk akal, sebaiknya jangan hanya berhenti sampai ceritanya Syeikh Abdul Qodir al-Jilani saja, tetapi teruskanlah. Misanya cerita tentang sahabat Umar bn Khottob berkirim surat kepada sungai Nil, Sahabat umar bin Khottob memberi komando dari Madinah kepada prajurut-prajurit yang sedang bertempur di tempat yang jauh dari Madinah. Cerita tentang Isra’ Mi’raj, cerita tentang tongkat menjadi ular, cerita gunung yang pecah, kemudian keluar dari unta yang besar dan sedang bunting tua, cerita tentang nabi Allah Isa menghidupkan orang yang sudah mati. Dan masih banyak lagi yang semuanya itu sama sekali tidak masuk akal.


Kalau keluar dari Nabi Allah itu sudah memang mukjizat, padahal Abdul Qodir al-Jilani itu bukan Nabi, apa bisa menimbulkan hal-hal yang tidak masuk akal?


Baik Nabi Allah maupun Syeikh Abdul Qodir al-Jilani atau sahabat Umar bin Khottob, kesemuanya itu masing-masing tidak bisa menimbulkan hal-hal yang tidak masuk akal. Tetapi kalau Allah Ta’ala membisakan itu, apakah saudara tidak dapat menghalang-halangi?


Apakah selain Nabi Allah juga mempunyai mukjizat?


Hal-hal yang menyimpang dari adat itu kalau keluar dari Nabi Allah maka namanya mukjizat, dan kalau timbul dari wali Allah namanya karomah.


Adakah dalil yang menunjukkan bahwa selain nabi Allah dapat dibisakan menimbulkan hal-hal yang menyimpang dari adat atau tidak masuk akal?


Silahkan saudara membaca cerita dalam Al-Quran tentang sahabat Nabi Allah Sulaiman yang dapat dibisakan memindah Arsy Balqis (QS An-Naml: 40)

قَالَ اللهُ تَعَالَى : قَالَ الَّذِى عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الكِتَابِ أَنَا آتِيِكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ. فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِى أَأَشْكُرُ اَمْ أَكْفُرُ. وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِيٌّ كَرِيْمٌ.


Tetapi di dalam manaqib Abdul Qodir al-Jilani ada juga kata-kata memanggil kepada para roh yang suci atau kepada wali-wali yang sudah mati untuk dimintai pertolongan, apakah itu tidak menjadikan musyrik?


Memanggil-manggil untuk dimintai pertolongan baik kepada wali yang sudah mati atau kepada bapak ibu saudara yang masih hidup dengan penuh i’tikad bahwa pribadi wali atau pribadi bapak ibu saudara itu mempunyai kekuasaan untuk dapat memberikan pertolongan yang terlepas dari kekuasaan Allah Ta’ala itu hukumnya syirik.


Akan tetapi kalau dengan i’tikad bahwa segala sesuatu adalah dari Allah Ta’ala, maka itu tidak ada halangannya, apalagi sudah jelas bahwa kita meminta pertolongan (ghouts)kepada para wali itu maksudnya adalah minta dimohonkan kepada Allah Ta’ala.


Manakah yang lebih baik, berdoa kepada Allah Ta’ala dengan langsung atau dengan perantaraan (tawassul)?


Langsung boleh, dengan perantaraan pun boleh. Sebab Allah Ta’ala itu Maha Mengetahui dan Maha Mendengar. Saudara jangan mengira bahwa tawassul kepada Allah Ta’ala melalui Nabi-Nabi atau wali itu, sama dengan saudara memohon kenaikan pangkat kepada atasan dengan perantaraan Kepala Kantor saudara. Pengertian tawassul yang demikian itu tidak benar. Sebab berarti mengalihkan pandangan terhadap yang ditujukan (pihak atasan), beralih kepada pihak perantara, sehingga disamping mempunyai kepercayaan terhadap kekuasaan pihak atasan, saudara juga percaya kepada kekuasaan pihak perantara. Tawassul kepada Allah Ta’ala tidak seperti itu.


Kalau saudara ingin contoh tawassul kepada Allah Ta’ala melalui Nabi-Nabi atau Wali-Wali itu, seperti orang yang sedang membaca al Quran dengan memakai kacamata. Orang itu tetap memandang al Quran dan tidak dapat dikatakan melihat kaca.


Bukankah Allah ta’ala berfirman dalam al Quran al Karim

وَقَالَ رَبُّكُمْ أُدْعُونِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ


Panggillah aku maka akan Aku sambut kepadamu. (Al Mukmin: 60)

فَادْعُو اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيِنَ


Maka sambutlah olehmu akan Allah ta’ala dengan memurnikan kepadanya akan agama. (Al Mukmin: 24)

وَالَّذِيْنَ لاَيَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا أَخَرَ


Dan orang-orang yang tidak menyambut bersama Allah akan tuhan yang lain. (Al Furqon: 68)


Dan masih banyak lagi ayat-ayat serupa itu.


Betul akan tetapi kesemuanya itu sama sekali tidak melarang tawassul dengan pengertian sebagaimana yang telah saya terangkan tadi. Coba saja perhatikan contoh di bawah ini:


Saudara mempunyai majikan yang kaya raya mempunyai perusahaan besar, saudara sudah kenal baik dengan beliau, bahkan termasuk buruh yang dekat dengannya. Saya ingin diterima bekerja di perusahaannya. Untuk melamar pekerjaan itu, saudara saya ajak menghadap kepadanya bersama-sama, dan saya berkata, “Bapak pimpinan perusahaan yang mulia. Kedatangan saya bersama guru saya ini, ada maksud yang ingin saya sampaikan, yaitu saya mohon diterima menjadi pekerja di perusahaan bapak. Saya ajak guru saya menghadap bapak karena saya pandang guru saya ini adalah orang yang baik hati dan jujur serta juga kenal baik dengan bapak”. Coba perhatikan! kepada siapa saya memohon? Kemudian adakah gunanya saya mengajak saudara menghadap majikan besar itu?
Ada dua orang pengemis. Yang satu sendirian, sedang yang satu lagi dengan membawa kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Anak yang satu masih menyusu dan yang satu lagi baru bisa berjalan. Di antara dua orang yang pengemis itu, mana yang lebih mendapat perhatian saudara? Saudara tentu akan menjawab yang membawa anak yang kecil-kecil itulah yang lebih saya perhatikan. Kalau begitu adakah gunanya pengemis itu membawa kedua orang anaknya yang masih kecil? Kepada siapakah pengemis itu meminta? Kepada anak yang masih kecil-kecil jugakah pengemis itu meminta?
Semoga kiranya risalah yang kecil ini, dapat memenuhi harapan ihwanul muslimin, terutama jamaah Nahdlatul Ulama. Semoga risalah ini bermanfaat.


Penyusun:

KH. Bisri Mustofa