Minggu, 18 Maret 2012


JAKARTA--MICOM: Rencana pemerintah untuk menyatukan tiga zona waktu Indonesia terlalu terburu-buru. Diperlukan pengkajian terlebih dahulu secara seksama. 

Demikian dikatakan Ketua Kadin Suryo B Sulisto, saat dihubungi Media Indonesia, akhir pekan lalu. "Saya kira sebaiknya dikaji terlebih dahulu secara seksama. Terutama mengenai cost dan benefitnya soal penggabungan waktu itu," kata Suryo. 

Ia mengatakan jika rencana penyatuan tiga zona waktu akan membawa manfaat besar. Harus dihitung juga seberapa besar manfaatnya tersebut. "Kalau dikatakan membawa manfaat yang besar, apa benar? Seberapa besarnya sih? Dihitung bisa tidak? Seberapa besar manfaat itu ketimbang mudaratnya," ujar Suryo. 

Suryo mencontohkan kalau di Amerika Serikat, mereka mempunyai sistem yang dinamakan penyesuaian daylight saving. Sistem inilah yang menjadi standar menentukan hitungan waktu dalam setiap musim yang terjadi di Amerika Serikat. 

"Setiap musim panas atau dingin ada yang namanya penyuasaian daylight saving. Jamnya dimajuin atau dimundurin. Dengan pertimbangan karena mataharinya lebih lama atau lebih sedikit. Maka untuk menghemat energi itu dilakukan," ungkap Suryo. 

Sementara di Indonesia, Suryo mempertanyakan perhitungan waktunya nanti akan seperti apa. Karena perhitungan waktu berdasarkan lama keluarnya matahari seperti yang dilakukan Amerika Serikat tidak diterapkan di Indonesia. "Kalau di Indonesia perhitungan waktu berdasarkan perbedaan atas dasar lamanya matahari keluar kan tidak ada. Jadi apa pertimbangannya?," tandasnya. (*/OL-04) 

http://www.mediaindonesia.com

KAPOLRESTA SOLO Ajak Masyarakat Wujudkan Damai


JIBI/SOLOPOS/Nadhiroh LANTUNKAN SALAWAT— Kapolresta Solo, Kombes Pol Asdjima’in (ketiga kiri) ikut melantunkan salawat pada acara Konser Sholawat dan Bedah Buku Ahlul Bid’ah Hasanah 2 bersama Ustad Noval Alaydrus (kiri) di Sritex Arena, Minggu (18/3/2012).
















SOLO—Kapolresta Solo, Kombes Pol Asdjima’in mengajak masyarakat untuk menjaga dan mewujudkan kedamaian di Kota Solo dan sekitarnya. Kapolresta juga meminta warga menjaga sopan santun.
“Sampaikan segala kritik dengan sopan dan santun. Polisi siap menerima kritikan. Tiap kritikan diterima dengan baik,” ujar Kapolresta pada acara Konser Sholawat dan Bedah Buku Ahlul Bid’ah Hasanah 2 bersama Ustad Noval Alaydrus (kiri) di Sritex Arena, Minggu (18/3/2012).
Kapolresta berharap masyarakat tidak takut kepada polisi. Warga bisa melapor kepada polisi jika ada masalah-masalah sosial. Di dalam menghadapi perbedaan di masyarakat supaya bersikap bijak. Untuk mengatasi permasalahan sosial, polisi bersama tokoh agama dan masyarakat berusaha menyelesaikannnya.
Ustad Noval mengemukakan masyarakat supaya saling menghargai dan tidak berbuat anarkis apabila tidak sepakat dengan sebuah perbedaan. Dia menginginkan antara satu dan lainnya supaya tidak saling menyinggung dan bersikap santun.
“Melalui kegiatan salawat ini, semoga ukhuwah makin kuat dan untuk syiar Islam,” ucap Ustad Noval.
Konser salawat yang digagas Majelis Ilmu dan Dzikir Ar Raudhah itu dihadiri sekitar 10.000 jemaah di antaranya dari berbagai wilayah di Soloraya dan DIY.
Nadhiroh/JIBI/SOLOPOS